FOTOGRAFI OLEH: JAVI HOFFENS (UNSPLASH)

Emosi Kita Dikendalikan Media Sosial

By Greatmind x Wealth Wisdom 2019
Senin, 20 Mei 2019 | 15:02 WIB

Media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram kini telah menjadi ikon era modern bersama dengan teknologi internet yang menjadi pembawanya. Hampir tidak ada satu pun manusia modern – terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar – yang tidak memiliki akun di media sosial tersebut. Seiring bertumbuhnya popularitas internet, tingkat depresi dan mood disorder dalam masyarakat pun turut naik – terutama pada generasi muda yang lebih dari separuh harinya dihabiskan di media sosial. Sampai-sampai, depresi kini menjadi salah satu penyakit yang cukup ‘mematikan’ bagi generasi muda. Berbagai riset tentang penggunaan media sosial telah menyimpulkan adanya hubungan antara media sosial dengan depresi. Hubungan keduanya memang telah terlihat jelas, namun pertanyaannya: mengapa bisa?

Berbagai riset tentang penggunaan media sosial telah menyimpulkan adanya hubungan antara media sosial dengan depresi.

Apakah penggunaan media sosial yang berlebihan bisa menyebabkan depresi, atau mereka yang depresi cenderung menggunakan media sosial secara berlebihan? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan ini, kita harus melihat kembali bagaimana media sosial tersebut ‘membajak’ psikologi manusia. Hampir setiap platform media sosial memiliki misi untuk menjaga penggunanya tetap online selama mungkin demi menghantarkan iklan sebanyak-banyaknya. Demi mencapai tujuan ini, aplikasi-aplikasi tersebut menggunakan fungsi-fungsi sosial sebagai sebuah adiksi yang bisa menjadi ‘penghargaan’ bagi penggunanya untuk tetap online di sana.

“Like atau Love, komentar, dan notifikasi yang kita terima di ponsel melalui aplikasi-aplikasi media sosial tersebut memberikan perasaan positif bahwa kita diterima secara sosial. Pikiran kita pun ‘dibajak’ oleh aplikasi-aplikasi ini. […] Dana riset dan pengembangan dialokasikan untuk menentukan bagaimana teknologi bisa menstimulasi dopamine dalam otak saat menggunakan produk media sosial supaya kita merasa senang dengan diri sendiri. Saat kita tidak mendapatkan dopamine dari aplikasi dan ponsel, kita pun merasa ketakutan, gelisah, dan kesepian. Obatnya – bagi sebagian orang – hanya dengan kembali ke ponsel untuk mendapatkan kesenangan tersebut.” (Darmoc, 2018)

Like atau Love, komentar, dan notifikasi yang kita terima di ponsel melalui aplikasi media sosial memberikan perasaan positif bahwa kita diterima secara sosial.

Cara lain media sosial dapat merasuki psikologi penggunanya adalah melalui konsep yang dikenal sebagai emotional contagion – penularan emosi: fenomena di mana keadaan emosi secara tidak sadar ‘ditransmisikan’ antar individu. Sementara penularan emosi memang sangat bisa dirasakan lewat interaksi tatap muka, namun ternyata dari beberapa penelitian ditunjukkan bahwa kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan perasaan lainnya bisa ditularkan kepada orang lain lewat media sosial. Dalam sebuah studi yang dilakukan E. Ferrara dan Z. Yang, sekitar 3.800 pengguna media sosial dipilih secara acak untuk dites mengenai penularan emosi yang terbaca di tulisan dalam konten yang mereka baca secara online. Studi ini menemukan fakta bahwa keadaan emosi mudah dimanipulasi oleh konten media sosial dan sesederhana membaca konten atau tulisan yang ditulis penuh emosi bisa memicu perasaan yang sama bagi pembacanya. Dalam kata lain, saat pengguna media sosial melihat tulisan sedih temannya yang di-post di media sosial, mereka bisa seketika merasakan kesedihan tersebut. Situasi ini sesungguhnya bisa menjadi bahaya terutama saat lanskap media sosial dipenuhi fenomena seperti ruang gema dan gelembung informasi seperti yang marak beredar saat ini.

Sesederhana membaca konten atau tulisan yang ditulis penuh emosi bisa memicu perasaan yang sama bagi pembacanya

Media sosial menggunakan algoritma yang sangat canggih untuk menyajikan konten-konten bagi penggunanya sesuai dengan apa yang mereka sukai sehingga mau menghabiskan waktu lebih lama. Pengguna media sosial cenderung ‘mengonsumsi’ dengan jenis konten yang sama dan berulang-ulang sehingga melatih algoritma media sosial tersebut untuk bisa memunculkan konten serupa hingga menciptakan sebuah ‘gelembung’ yang menjebak penggunanya untuk terus berada di dalam gelembung tersebut tanpa tahu ada dunia lain di balik yang kita ketahui. Contohnya, seorang pengguna yang membaca artikel-artikel mengenai terorisme atau bencana akan disajikan konten-konten yang negatif karena itu merupakan jenis konten yang dirasa oleh algoritmanya disukai pengguna tersebut. Saat dikombinasikan dengan teori penularan emosi, fenomena gelembung informasi ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan emosi mereka yang terjangkit konten-konten negatif semacam itu.

Fenomena gelembung informasi bisa berdampak buruk bagi kesehatan emosi mereka yang terjangkit konten-konten negatif.

Secara tidak langsung, media sosial menjadi semacam katalis bagi perilaku destruktif seperti membanding-bandingkan, cyberbullying, dan pencarian pengakuan. Ini semua merupakan efek samping dari bagaimana aplikasi-aplikasi tersebut didesain memang agar penggunanya memamerkan sisi indah dari hidupnya; mengunggah konten yang terlihat bahagia dan membuang yang tidak menarik dan cenderung jelek. Saat kita melihat kurasi konten kehidupan orang lain, kita pun otomatis akan membandingkan hidup mereka – yang seakan terlihat indah dan sempurna – dengan bagian buruk dari hidup kita. Sehingga bisa memunculkan perasaan malu, rendah diri, dan inferior. Perasaan-perasaan ini bahayanya bisa membawa kita lebih jauh lagi ke perilaku destruktif seperti pencarian pengakuan diri – atau bahasa sederhanya: cari perhatian.

Media sosial menjadi semacam katalis bagi perilaku destruktif seperti membanding-bandingkan, cyberbullying, dan pencarian pengakuan.

Sebuah studi di Inggris yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health menguji dampak psikologis dari media sosial terhadap 1.500 generasi muda dan menyimpulkan bahwa hampir semua media sosial memiliki dampak negatif bagi kesehatan mental mereka; mulai dari gangguan seperti anxiety (kegelisahan) hingga rasa rendah diri. Hasil riset tersebut cukup jelas; kasus-kasus depresi semakin meningkat seiiring semakin lekatnya manusia dengan media sosial, dan semakin seringnya kita menggunakan media sosial semakin meningkatnya kemungkinan mendapatkan mood disorder. Hanya saja yang tidak terlihat dari riset tersebut adalah apakah penggunaan media sosial berlebih menjadi penyebab depresi, ataukah orang yang dilanda depresi akan cenderung menggunakan media sosial dengan berlebihan. Masih perlu studi lebih lanjut dari berbagai pihak untuk bisa mencari tahu jawaban dari pertanyaan pamungkas abad ini tersebut. Meski begitu, ada langkah sederhana untuk setidaknya bisa menghindarkan kita dari kemungkinan terdampak penyakit mental tersebut: mulai mengurangi penggunaan media sosial dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan koneksi kita di dunia nyata. Baik itu bertemu dan bercengkrama dengan sahabat atau keluarga, atau melakukan hobi-hobi yang mungkin telah lama kita tinggalkan sejak kita terlalu asik dengan media sosial.

Mulai kurangi penggunaan media sosial dan habiskan waktu lebih banyak dengan koneksi kita di dunia nyata.