Perencanaan keuangan jangka pendek & panjang

Dalam berinvestasi, untuk menentukan jenis instrumen yang sesuai, terlebih dahulu kita harus mengetahui profil risiko dan tujuan investasi. Semakin tinggi profil risiko yang kita miliki, semakin besar juga toleransi risiko yang kita punya. Sebagai contoh untuk seorang investor dengan profil risiko agresif yang memilih untuk berinvestasi di instrumen saham karena menawarkan imbal hasil tinggi, tentu ia harus memiliki toleransi risiko yang juga cukup besar dengan pergerakan harga saham yang fluktuatif. Sebaliknya untuk nasabah dengan profil risiko yang lebih rendah, berinvestasi dalam surat utang negara yang menawarkan kupon tetap dan imbal hasil yang relatif lebih tinggi dari deposito bisa menjadi pilihan menarik karena fluktuasi yang relatif lebih rendah.

Selain profil risiko, kita juga harus mengetahui tujuan investasi. Apakah investasi ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek atau jangka panjang. Jangka pendek misalnya dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun misalnya untuk membayar renovasi rumah, membayar uang pangkal sekolah anak yang akan masuk SD, pembayaran pajak, dana liburan atau dana untuk pembayaran pajak. Sementara jangka panjang misalnya adalah untuk dana pensiun, dana kuliah anak 10 tahun mendatangi, atau dana warisan. Dengan mengetahui dan menyadari masing-masing kebutuhan tersebut, kita bisa mulai merencanakan dan menentukan instrumen investasi apa yang cocok untuk masing-masing kebutuhan tersebut.

Kebutuhan jangka pendek masih bisa dibagi ke beberapa bagian, yaitu kebutuhan yang terduga dan tak terduga. Untuk kebutuhan yang terduga adalah kebutuhan baik rutin ataupun non rutin yang bisa diantisipasi dan direncanakan dan jangka waktunya kurang dari satu tahun, misalnya seperti dana liburan, uang pangkal sekolah dan dana renovasi rumah. Untuk kebutuhan jangka pendek seperti ini, investor biasa mempersiapkan dananya di tabungan atau deposito. Namun ada juga instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil sedikit lebih tinggi dari deposito namun dengan tingkat risiko yang relatif sama, contohnya adalah Reksa Dana Pasar Uang. Reksa Dana Pasar Uang adalah Reksa Dana dengan tingkat risiko yang paling rendah yang berinvestasi pada deposito dan surat utang pemerintah jangka pendek (dibawah 1 tahun). Reksa Dana Pasar Uang ini juga mudah dicairkan, cukup melakukan instruksi cair atau jual pada agen penjual reksa dana tempat membeli pertama, lalu dana akan masuk kembali ke rekening tabungan dalam jangka waktu paling lama 2 hari kerja.

Selain kebutuhan jangka pendek yang terduga, kita juga harus merencanakan kebutuhan jangka pendek yang tak terduga, seperti dana untuk biaya perbaikan motor dikala mogok, dana musibah atau dana pengobatan yang tidak dilindungi asuransi. Dana-dana tersebut dinamakan dana darurat dan harus disimpan dalam instrumen yang paling likuid yang mudah diakses kapan saja seperti dalam tabungan dengan fasilitas ATM, Internet Banking, maupun Mobile Banking.

Sementara untuk perencanaan kebutuhan jangka, lebih banyak instrumen investasi yang tersedia tergantung dari jangka waktu dan profil risiko investor. Pada umumnya untuk jangka waktu lebih dari 3 tahun, investor dapat berinvestasi pada instrumen saham atau Reksa Dana Saham. Untuk jangka waktu yang lebih pendek atau profil risiko yang lebih rendah bisa berinvestasi pada Surat Utang Negara (obligasi) seperti ORI dan Sukuk yang memiliki jangka waktu kurang lebih 3 tahun, atau Surat Utang Negara seri FR yang memiliki jangka waktu 10-20 tahun. Reksa Dana Pendapatan Tetap yang berinvestasi pada instrumen surat utang, dan Reksa Dana Campuran yang berinvestasi dalam instrumen pendapatan tetap dan saham juga bisa dijadikan alternatif untuk perencanaan jangka panjang. Selain berinvestasi dalam instrumen keuangan, investor juga dapat berinvestasi secara jangka panjang dalam instrumen investasi non-keuangan seperti emas, tanah dan/atau bangunan. Hasil investasi jangka panjang biasanya juga tergantung dari kondisi pasar dan perekonomian suatu negara, masing-masing instrumen investasi memiliki karakternya masing-masing, misalnya pada saat ekonomi tumbuh cepat dan berkembang, instrumen saham bisa dijadikan pilihan utama. Pada saat tren suku bunga rendah atau menurun, instrumen obligasi akan sangat menarik karena pada saat suku bunga rendah, permintaan obligasi yang menawarkan kupon tinggi akan meningkat dan membuat kenaikan harga. Sementara pada saat krisis atau resesi ekonomi, instrumen pasar uang dan emas bisa dijadikan pilihan. Dengan perubahan-perubahan cepat tak terduga yang dapat terjadi pada pasar dan keadaan ekonomi suatu negara, ada baiknya berinvestasi dalam beberapa instrumen investasi untuk mengurangi risiko pasar. Untuk investor pemula, disarankan untuk berinvestasi di instrumen reksa dana. Reksa Dana cocok untuk investor pemula karena menawarkan berbagai pilihan investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi yang berpengalaman dan profesional, sehingga investor tidak perlu mengamati hasil investasi secara rinci dan risiko investasi pun dapat lebih terukur.

Saat ini, Reksa Dana Saham bisa dijadikan pilihan yang menarik untuk berinvestasi jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi di atas level 5%, inflasi yang terkendali, dan masih stabilnya pertumbuhan laba korporasi mampu untuk membawa Indeks saham ke level yang lebih tinggi lagi. Fokus pemerintah dan Bank Indonesia untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan daya beli masyarakat juga diharapkan dapat semakin menumbuhkan minat investor untuk berinvestasi baik di sektor keuangan maupun rektor riil. Saat ini saja, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah tumbuh lebih dari 10% di sepanjang tahun 2017.

Johan Kesuma Harsa
WM Market Strategist